Langsung ke konten utama

Petualangan Absurd di Bromo-Ranu Kumbolo-Batu Malang Part 3 (Camping Semalam di Ranu Kumbolo)

Puas menjelajah Bromo, Bapak Jeep pun mengajak kami beristirahat sejenak di warung dekat savana. Lumayan bisa tidur-tiduran sambil nyemil-nyemil sebentar buat menghilangkan capek. Udah cukup istirahat kami pun melanjtkan perjalanan menuju Desa Ranu Pani, Kabupaten Lumajang untuk selanjutnya mendaki ke Ranu Kumbolo.

Sampai di Desa Ranu Pani kami disambut oleh Pak Doni. Beliau adalah (bisa dibilang) kepala tour guide yang kami sewa jasanya. Bersama Pak Doni, kami dipertemukan dengan sesama calon pendaki, sepasang cowok-cewek yang mau mendaki sampai puncak Semeru (Mahameru). Sekedar info, Ranu Kumbolo termasuk dalam jalur pendakian ke puncak Gunung Semeru. Setelah bercakap-cakap sebentar dengan Pak Doni dan couple tadi, akhirnya kami akan bersiap mendaki. Pak Doni menawarkan untuk menitipkan barang bawaan kita. Beliau bilang cukup bawa barang yang diperlukan saja karena kita cuma semalam disana. Tanpa basa-basi kita yang cewek-cewek langsung naruh bawaan kita yang berat banget dan mengambil perlengkapan dan baju ganti cukup untuk semalam. Yang cowok, gak peduli dan masih setia menenteng carrier mereka yang besar. Biarlah, biar mereka rasakan! Hahahhahaha
menuju Ranu Pani

Okay, jangan dikira dari desa Ranu Pani kita bakal langsung liat gunung terus mendaki. No!!!! Tapi kita harus naik ojek dulu untuk sampai di pos atau basecamp tempat pendaftaran dan pendataan calon pendaki Semeru. Gimana caranya?? Adalah menggunakan ojek. Tapi jangan kalian bayangkan naik ojek dari desa Ranu Pani ke pos itu jalannya mulus kayak jalan tol ya... Tapi, jalannya itu adalah jalan sempit yang belok-belok mendaki dan di kiri-kanannya adalah ladang sayur warga (kayak di film Petualangan Sherina gitu). Jadi sepanjang jalan saya hanya bisa nutup mata gak mau lihat kiri kanan, plus si bapak ojek bawanya agak ngepot-ngepot lagi. Tapi tenang, sebenarnya mereka udah sangat berpengalaman dengan medan disini. Tapi ya serem juga kalau lewat jalan begitu naik motor.

Perjalanan naik ojek ke pos pendakian itu gak lama. Cuma 10 menitan udah sampai. Dan hawanya makin sejuk. Karena saat kami tiba itu udah masuk tengah hari dan waktu sholat zuhur, jadi kami putuskan untuk sholat dan makan dulu. Di pos ini terdapat mushola, toilet umum dan warung makan. Dan semuanya bersih. Enaknya kalau kita menggunakan jasa tour guide saat mendaki ke Ranu Kumbolo adalah kita gak perlu repot-repot untuk urus pendaftaran dan izin mendaki, karena sebelumnya sudah diurus oleh jasa tour guide dan telah kita lengkapi persyaratan yang diminta. Sebelum mendaki, kami diberikan pengarahan dulu oleh pengurus Taman Nasional Bromo Tengger Semeru mengenai hal-hal serta jalur pendakian. Pengarahan ini sifatnya wajib dan harus diikuti oleh semua calon pendaki Semeru untuk memastikan kesiapan kita dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
 Obet pose dulu

Tepat pukul 1 siang kita mulai mendaki menuju Ranu Kumbolo. Awalnya masih pada senyum-senyum ceria, karena jalanan masih landai. Udah mulai lewat 15 menit, jalan udah mulai mendaki dan pada ngos-ngosan. Tapi jalanin aja dengan senyuman. Di sepanjang perjalanan menuju Ranu Kumbolo, kami bertemu sesama pendaki baik itu yang turun ataupun naik. Dan aturan untuk setiap pendaki apabila bertemu sesama pendaki harus selalu disapa dan tersenyum karena itu merupakan salah satu semangat (kerasa banget) untuk kita mencapai tujuan.
 
Selama mendaki, kita juga bisa menemui beberapa pos pemberhentian untuk beristirahat. Untuk sampai ke Ranu Kumbolo, kita akan melewati 3 pos pemberhentian. Pos ini bentuknya sebenarnya warung untuk sekedar ngaso sambil melepas lelah dan isi perut kalo lapar. Karena di warung ini menjual gorengan dan semangka yang segar banget buat ngembalikan energi kita.
penampakan pos istirahat
Yang namanya mendaki gunung pasti ada yang namanya jalan turunan sama tanjakan. Tapi tanjakan yang benar-benar serem itu adalah tanjakan yang dimulai dari pos tiga menuju Ranu Kumbolo, yang mana nantinya ini bakal jadi turunan yang nyeremin juga. Pasalnya tanjakan ini agak curam dan jalannya gak rata. Jadi kalo kalian mendaki rame-rame saling bantu aja ya.
lelah, happy aja
Dari pos 3, kami terus melanjutkan perjalanan menuju Ranu Kumbolo dan hari mulai gelap. Begitu kami melihat hamparan rumput dan danau rasanya senang banget. Tapi ternyata masih harus ditempuh kurang lebih setengah jam lagi. Kami pikir setelah melewati tanjakan maut dari pos 3 masalah udah selesai. Ternyata mendekati Ranu Kumbolo kita masih ketemu turunan yang agak serem juga, karena selain gak rata, jalannya agak becek dan licin. Jadi harus ekstra hati-hati. Langit udah mulai lebih gelap dan malam pun menjelang dan akhirnya kami sampai di tempat pendirian tenda. Dua bapak Porter yang  bersama kami sebelumnya udah mendirikan tenda dengan indahnya dan menyiapkan makan malam. Serta couple tadi udah duduk manis di depan tenda. Sebenarnya kalau normal, biasanya pendaki sampai di Ranu Kumbolo sekitar 4-4,5 jam. Tapi karena kita kelewat selow jalannya, kita membutuhkan waktu 5 jam buat sampai di Ranu Kumbolo!

Setelah istirahat sebentar, saatnya bersih-bersih, sholat dan siap istirahat. Untuk keperluan panggilan alam, kalian gak perlu khawatir, karena di Ranu Kumbolo ada toilet umum atau bisa dibilang toilet darurat. Toiletnya itu cuma terdiri dari bilik-bilik papan yang diberi lobang. Untuk airnya angkut sendiri dari danau. Kalau kalian mau ke toilet ini, kalian harus siap mental, karena kadang bisa ketemu "jackpot" dan baunya semriwing!! Satu hal lagi yang harus dipatuhi saat kita sedang berada di Ranu Kumbolo adalah kita gak boleh buang sampah sembarangan dan limbah apapun ke dalam danau. Jadi kalau kita mau sikat gigi atau wudhu harus pada jarak yang udah dikasi tanda.
 makan malam

Malam semakin larut dan akhirnya udah bisa istirahat. Hawanya makin malam makin dingin. Anak cowok udah mendengkur dengan indahnya dan kami para cewek masih gelisah nentuin posisi tidur yang pas sambil meluk-meluk diri sendiri saking dinginnya. Tapi semua itu dinikmati saja, karena itu prosesnya.

Akhirnya subuh pun tiba. Setelah sholat subuh kami pun duduk manis di depan tenda nungguin sunrise. Spot tenda kami itu pas banget di depan danau dan tempat yang paling oke buat ngeliat sunrise. Sunrise seakan muncul dari balik danau di antara dua bukit. Bagus banget! Gak nyesal jauh-jauh liat sunrise kesini.

Puas liat sunrise, kami lanjut explore daerah sekitar Ranu Kumbolo. Ada yang namanya tanjakan cinta dan Oro-oro Ombo. Untuk menuju ke Oro-oro Ombo, kita melewati tanjakan cinta. Naik tanjakan cinta emang cukup ngos-ngosan, ibarat kata kalau ngejar cinta ya gitu kali ya rasanya. Dari atas tanjakan cinta kita bisa ngeliat barisan tenda warna-warni di tepi danau Ranu Kumbolo yang keren banget. Sampai di atas, kita bisa ngeliat puncak Mahameru dari kejauhan. Untuk mencapai Oro-oro Ombo kita perlu turun lagi, tapi kami udah gak sanggup lagi kalo harus menanjak pas pulangnya mending kami stop di atas tanjakan cinta karena kami juga harus simpan energi buat pulang daripada semaput.

Sebelum pulang, kami sarapan dulu sekalian isi energi buat pulang. Kami juga ngobrol-ngobrol sedikit dengan couple yang ternyata bakal ngelanjutin mendaki sampai Mahameru (salut!). Tepat jam 10 akhirnya kami mulai turun gunung. Saat turun gunung, setelah pos 1, Pak Porter nunjukin kami jalan pintas karena bisa hemat setengah jam katanya. Ya kami ikut aja karena percaya. Tapi jalannya itu lumayan banyak semak jadi kayak main film India dah.

Akhirnya setelah perjalanan yang melelahkan, kami sampai kembali di basecamp pendakian. Harusnya kalau waktu tempuh turun gunung itu kan lebih cepat daripada naik gunung. Kalau kami kebalik. Naik gunung 5 jam baliknya 5,5 jam karena kami ngasonya kelamaan di pos 3.

Dari basecamp kami kembali lagi ke desa Ranu Pani pakai ojek. Sampai di Ranu Pani, kami dijemput kembali oleh Pak doni dan selanjutnya diantar ke penginapan kami di Batu. Selama perjalanan ke Batu, semuanya udah pada tepar, kecapean. Yang masih merem melek cuma saya dengan Kak Yessy sekalian nemanin Pak Doni ngomong.

Akhirnya sampai juga kami di Batu dan kami pun pamitan dengan Pak Doni yang sudah sangat membantu kami dalam trip kami di Bromo dan Ranu Kumbolo. Cerita perjalanan ini masih belum selesai, masih tersisa perjalanan keliling kota Batu dan Malang. Lanjut di Part 4 ya....


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Healing Trip di Ujung Borneo, Kinabalu - Part 1

Kota Kinabalu atau yang biasa lebih sering disebut Kinabalu adalah ibu kota negara bagian Sabah yang merupakan salah satu negara bagian yang ada di Malaysia dan terletak di Kepulauan Kalimantan (Borneo). Nah kali ini saya mau share tentang pengalaman saya bersama teman-teman saya saat trip ke Kinabalu tanggal 12-16 April 2018 kemarin. Biasanya kalau orang Indonesia liburan ke Malaysia, rata-rata tujuannya daerah semenanjung, mana lagi kalau bukan Kuala Lumpur. Nah, pas saya bilang mau ke Kinabalu, orang-orang pada nanyain ada apaan emang disana, saya jawab aja, "Mau liat Gunung Kinabalu 😅😅". Sebenarnya trip ini lagi-lagi terlaksana berkat adanya promo maskapai kesayangan para traveler yang suka backpacker seperti kami 🙈🙈. Saat itu kami menemukan promo penerbangan Pontianak-Kuching seharga 75 ribu rupiah doang! Siapa juga yang gak ngiler liat harga segitu. Nah, berhubung dari Pontianak gak ada penerbangan langsung ke Kota Kinabalu (ibu kota Negara Bagian Sabah) jad...

Healing Trip di Ujung Borneo, Kinabalu - Part 4

Setelah puas menghabiskan waktu di Kundasang dan menikmati pulau, hari terakhir kami habiskan hanya jalan-jalan santai di pusat Kota Kinabalu. Karena saat itu hari Minggu, kami putuskan ke Gaya Sunday Market yang letaknya gak jauh dari hotel kami. Tempatnya cukup dijangkau dengan jalan kaki sekitar 15 menit. Gaya Sunday Market adalah pasar rakyat yang khusus buka saat hari Minggu. Jika hari biasa, jalanan itu sama kayak jalanan biasa pada umumnya. Disana itu rame banget, ibarat kata kayak Alor Street di KL saat malam hari. Hanya saja kalau di Gaya Sunday Market gak cuma jualan makanan aja, tapi segala macam ada, dari baju, perkakas, oleh-oleh, tanaman sampai binatang ada. Gaya Sunday Market buka dari jam 6 pagi sampai jam 12 siang, kalau udah siang balik lagi jadi jalan biasa. Pengunjung Gaya Sunday Market rame banget. Dari warga lokal sampai turis asing ada semua. Karena ini hari terakhir jalan-jalan kami di Kinabalu, jadi ini kami manfaatkan buat sekalian nyari oleh-oleh...

Healing Trip di Ujung Borneo, Kinabalu - Part 2 (Kundasang)

Setelah sekian lama membiarkan blog ini tanpa postingan baru, akhirnya saya kembali untuk melanjutkan postingan saya tentang healing trip saya di ujung Borneo . Nah, ini adalah lanjutan dari postingan sebelumnya. Kali ini saya akan bahas tentang trip di hari kedua saya selama di ibukota Negara Bagian Sabah ini. Salah satu tempat favorit yang wajib dikunjungi jika ke Kinabalu adalah Kundasang. Kundasang adalah sebuah desa yang bisa ditempuh lewat jalur darat selama kurang lebih 2,5 jam dari Kota Kinabalu. Kami menuju Kundasang dengan menggunakan mobil sewaan. Supir mobil sewaan kami ini adalah supir Grab kenalan Bang Denny waktu ke Kinabalu sebelumnya. Alhamdulillah berkat sifat SKSD Bang Denny kami bisa mendapatkan mobil seharga 350 RM plus petrol (BBM), karena kalau nyewa lewat agen travel bisa kena 400 sampai 450 RM untuk 1 mobil berkapasitas 6 orang. Perjalanan kami dimulai jam 8 pagi. Karena perjalanan yang cukup jauh, kami menyempatkan sarapan di minimarket samping hotel....